Rakernas PERPAMSI 2026: Dari Konsolidasi Menuju Transformasi
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PERPAMSI sukses digelar pada Sabtu, 18 April 2026, di Hotel Mercure Batavia, Jakarta Barat. Sesuai tema yang diusung, yaitu “Dari Konsolidasi Menuju Transformasi: Menguatkan Kolaborasi Nasional”, rakernas kali ini dihadiri oleh para pemangku kepentingan di bidang air minum, mulai dari kementerian-kementerian terkait, seperti Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kesehatan, sejumlah lembaga lain, serta para pimpinan dari Pengurus Daerah (PD) PERPAMSI se-Indonesia.
Ketua Umum PERPAMSI H.A. Teddy Setiabudi menegaskan bahwa tema yang diusung bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan arah dan gerak bersama seluruh pemangku kepentingan sektor air minum. Ia menyoroti bahwa tantangan kian kompleks, mulai dari tekanan biaya operasional, dinamika global, kebutuhan investasi untuk perluasan layanan, hingga meningkatnya ekspektasi masyarakat, sehingga menuntut perubahan cara kerja yang lebih adaptif dan transformatif.
Dalam konteks tersebut, Rakernas diharapkan mampu melahirkan kebijakan yang jelas, terukur, dan berdampak nyata bagi BUMD air minum di seluruh Indonesia. Ia menegaskan, keberhasilan PERPAMSI tidak diukur dari banyaknya program, melainkan dari layanan air yang benar-benar dirasakan masyarakat—mengalir secara kontinu, berkualitas, sehat, aman, dan berkeadilan.
“Kita harus memastikan bahwa setiap langkah yang dihasilkan dari forum ini tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi aksi nyata yang memperkuat layanan. Transformasi bukan pilihan, melainkan kebutuhan agar kita tetap relevan dan mampu menjawab harapan masyarakat,” katanya.
Tiga poin penting
Gagasan transformasi di sektor air minum ini sejalan dengan arah kebijakan yang diusung Pemerintah Pusat. Saat membawakan keynote speech, Suraji, Asisten Deputi Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), menegaskan bahwa fokus kerja di bawah koordinasi Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan sangat jelas, yaitu akselerasi infrastruktur yang terintegrasi dan inklusif.
Terkait hal ini, Suraji menyampaikan tiga poin penting strategis dari sisi infrastruktur. Pertama, transformasi infrastruktur berbasis ketahanan. Menurutnya, kita tidak bisa hanya membangun jaringan pipa secara parsial. Infrastruktur air minum ini harus dibangun konsep Integrated Water Sourch Management.
“Kita harus memastikan, dari hulu hingga keran rumah tangga, kualitas dan kuantitasnya terjaga di tengah tantangan perubahan iklim yang ekstrem ini,” ujar Suraji.
Kedua, digitalisasi dan efisiensi operasional. Dalam konteks ini, Kemenko IPK mendorong PERPAMSI dari seluruh BUMD AM untuk mempercepat transformasi digital. Ia menekankan bahwa penggunaan smart water monitoring bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk menekan angka NRW yang masih tinggi, efisiensi layanan dapat meningkat, dan tarif tetap terjangkau bagi masyarakat. Ini merupakan langkah-langkah strategis yang harus bisa dilaksanakan bersama-sama.
Ketiga, inklusivitas. Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan mengawal koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian infrastruktur ini yang terintragsi dan inklusif. “Inklusivitas ini merupakan bukti bahwa air bagi kehidupan ini adalah air yang setara,” urai Suraji.
Menilik semua isu dan tantangan yang dihadapi, Suraji meyakini bahwa transformasi atau perubahan adalah suatu keniscayaan. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi yang andal dari semua pihak. Di sini, ia memastikan bahwa negara hadir dalam pengelolaan air minum secara terintegrasi sebagai bagian dari mandat yang diamanatkan UUD 1945. Ia pun mengajak semua stakeholder untuk membuang ego sektoral demi tercapainya target air minum aman 100 persen.
Momen-momen penuh makna
Rakernas PERPAMSI juga diwarnai sejumlah momen penting, salah satunya talkshow dalam rangka Hari Air Dunia yang dipandu Wiwit Heris dari SPEAK Indonesia. Forum ini menghadirkan beragam perspektif, mulai dari Dibyo Saputro (Direktorat Air Minum Kementerian PU) yang bergabung secara daring, Prof. Dr. I Gusti Ayu Ketut Rachmi Handayani (UNS), Indah Hidayat (Kementerian Kesehatan), Muchammad Sjahid (PAM Tirta Aji Wonosobo), hingga Jonna Aman Damanik (Komite Nasional Disabilitas). Diskusi berlangsung dinamis dan mengerucut pada satu kesimpulan: transformasi sektor air minum merupakan kebutuhan mendesak lintas sektor.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan MoU antara Forum GEDSI Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (FERSIA) dan Komisi Nasional Disabilitas. Puncak Rakernas berlangsung dalam sidang pleno yang membahas agenda strategis, mulai dari laporan pertanggungjawaban, arah kebijakan ke depan, hingga persiapan PORPAMNAS 2026 di Balikpapan, Kalimantan Timur. Seluruh rangkaian ditutup dengan deklarasi komitmen kolaborasi nasional sebagai langkah konkret menyatukan arah dan mempercepat transformasi layanan air minum bagi masyarakat. RS







